“Ampunilah orang itu, TUHAN” atau “Ampunilah aku, TUHAN”

28 Februari 2016 (Yandis).docx (ipost.christianpost.com)

Pada saat seseorang menyakiti kita, apakah kita lebih mudah berkata “Ampunilah orang itu, Tuhan” daripada berkata “Aku memaafkan orang itu, Tuhan”? Pada saat seseorang memfitnah kita atau membuat kita menderita, apakah kita lebih mudah berkata “Ampunilah orang itu Tuhan” daripada berkata “Ampunilah aku, Tuhan”? Baca lebih lanjut

INI BUKANLAH MILIKKU MELAINKAN MILIKMU

26 Februari 2016 (Tommy).docx (www.roundchurch.ca)

Suatu hari seorang pria meminta tolong kepada karyawannya untuk mengirimkan sebuah paket kepada rekan kerjanya. Ketika sang karyawan ini sampai ke tempat rekan kerja dari sang pemilik barang, ia menyerahkan barang itu dan segera kembali. Saya rasa kamu tidak akan mendapati cerita di mana si karyawan tuan pemilik barang meminta uang atas barang yang dibawa untuk dirinya sendiri. Itu karena Baca lebih lanjut

Menyapa orang yang terpinggirkan

13 Februari 2016 (Alex).docx (www.gcfvancouver.org)

Pada hari ini Injil mengisahkan kepada kita bagaimana Yesus hadir dan turut makan bersama dengan para pemungut pajak dan orang-orang ‘berdosa’. Tampaknya kisah tersebut sudah tidak asing bagi kita dan kerap dikutip dalam berbagai tulisan. Namun, setidaknya dari kisah tersebut pernahkah Anda bertanya pada diri Anda sendiri, maukah Anda berjumpa, menyapa, bahkan makan bersama dengan orang-orang ‘berdosa’ atau orang-orang miskin? Masalahnya Baca lebih lanjut

Jangan mengingat kebaikan yang telah kita lakukan

10 November (Yandis).docx (leandrinigrini.wordpress.com)

Kerendahan hati kunci pelayanan sejati. Tanpa kerendahan hati, pelayanan kita menjadi tidak tulus. Tanpa kerendahan hati, kita menjadi cepat lelah dalam pelayanan kita. Tanpa kerendahan hati, banyak masalah dalam pelayanan yang sulit diatasi. Dengan kerendahan hati, kita mampu untuk terus melayani walaupun tidak dihargai, walaupun dilupakan, walaupun dianggap sepele. Dengan kerendahan hati, pelayanan kita memberikan kebahagiaan karena melalui pelayanan kita, kita secara tidak langsung melayani Yesus.

Dalam hidup kita, pernahkah kita merasa tersinggung jika pelayanan kita tidak dihargai? Pernahkan kita menjadi malas untuk melayani jika apa yang sudah kita kerjakan tidak dihargai? Apakah kita menjadi marah ketika orang lain lupa mengucapkan “terima kasih” pada kita?

Dalam bacaan Injil, Tuhan Yesus berbicara tentang kerendahan hati di dalam melaksanakan tugas. Seorang hamba tidak mengharapkan balasan dari tuannya. Begitu jugalah semestinya para murid dalam melaksanakan tugas yang diserahkan Allah kepada mereka. Sikap semacam ini dapat ditangkap sebagai bentuk serangan terhadap orang Farisi. Mereka sebagai bagian bangsa Israel percaya bahwa Allah akan membalas mereka sesuai dengan perbuatan mereka. Mereka dapat mengajukan klaim atas kebaikan yang telah mereka perbuat. Allah pasti akan membalas, tetapi orang melakukan perutusan bukan sekedar untuk mencari balasan dari Allah.

10 November (Yandis).docx www.pinterest.com(

Wajar jika kita merasa ingin dihargai. Wajar jika kita ingin dihormati. Wajar jika kita ingin menerima kata “terima kasih’ setelah kita melakukan kebaikan kepada orang lain. Namun apa yang akan kita rasakan jika kita tidak mendapatkan itu semua? Mungkin rasa marah, kesal, kecewa, atau frustrasi yang akan melemahkan pelayanan kita. Untuk mengatasi itu semua kuncinya adalah kerendahan hati. Ada kata bijak yang mengatakan “Jangan mengingat kebaikan yang telah kita lakukan”. Kata bijak itu mengajarkan kita untuk tetap bersikap rendah hati dan tidak sombong walaupun kita telah melakukan banyak kebaikan pada orang lain.

Maukah kita semakin maju dalam pelayanan kita dengan sikap rendah hati? Tuhan Yesus memberkati pelayanan kita semua. Amin

Image: leandrinigrini.wordpress.com, www.pinterest.com

About the author

Br. Ferriandis Harsono

Br. Yandis is a graduate of Pediatric Specialist in University of Santo Tomas Hospital, Manila. Adaptation of Pediatric Specialist in University of Padjadjaran, Bandung. “Where there is a will, there is a way” is his personal motto. Devotion to Mother Mary through Rosary prayer, mission in education and health, and preaching the salvation through Lord Jesus in unity with Catholic Church are his reasons entered the formation house in Surabaya as an aspirant in July 2015.