Kopi Pun Bisa Sempurna Karena pahitnya

20 februari 2016 (Opin).doc (carlawordsmithblog.com)

Semua orang pasti pernah memiliki pengalaman memandang seseorang sebagai musuh. Ada banyak alasan menjadikan orang sebagai musuh, misalnya saja orang tersebut pernah mengkhianati kita, menyakiti kita, menodai kita dan lain sebagainya. Rasa benci itu akan terus memuncak di kala kita lebih mendengar orang lain yang hanya ingin memperkeruh suasana permusuhan. Seakan mereka seperti Baca lebih lanjut

Iklan

Undangan Pesta Kudus

18 Februari 2016 (Romy).doc (www.annagarforth.co.uk)

Bacaan Injil hari ini menceritakan kisah mengenai kerajaan di mana seorang raja yang mengadakan perjamuan nikah bagi anakanya. Undangan perjamuan telah disebar dan persiapanpun telah dilakukan demi menunjang kelancaran pesta perjamuan tersebut. Tetapi, ketika tiba saatnya pesta tersebut diselenggarakan, tak ada satu orangpun yang mengindahkannya. Ada yang pergi mengurus ladangnya ataupun pergi mengurus usahanya. Maka dibinasakanlah mereka yang diundang tersebut karena tidak mengindahkan undangan raja. Baca lebih lanjut

Lebih dari itu semua, yang kuinginkan ialah hatimu

08 November (Tommy)2

Hari itu sebuah rumah ibadat terisi penuh dengan banyak orang yang berkunjung untuk beribadah. Begitu banyak orang hadir dengan berbagai macam latar belakang dan status sosial. Tak lama setelah peribadatan dimulai satu persatu orang mulai mengeluarkan uang untuk dipersembahkan. Menariknya, di tengah peristiwa itu seorang pria yang juga berada disana memperhatikan satu per satu orang yang memberi persembahan sampai mata dan hatinya berhenti ketika ia melihat seorang janda yang berpenampilan begitu miskin memberi persembahannya. Lekas ia memanggil murid-Nya dan berkata “semua orang memberi dari kelimpahannya, namun janda itu memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, seluruh nafkahnya”

Sejujurnya saya begitu tersentuh ketika membaca kisah dalam Injil hari ini. Perkataan lembut dan sederhana yang keluar dari mulut Yesus ini membuat saya betul-betul menyadari bahwa Tuhan yang kita miliki ialah Tuhan yang tidak memandang kita manusia dari materi yang melekat dan kita miliki. Namun sebaliknya, kita bisa dengan yakin mengenali bahwa Tuhan kita ialah Tuhan yang memandang pada kedalaman hati.

Tentu kita bertanya apa yang memberanikan janda miskin ini memberikan uang yang dia miliki, itu artinya mungkin hari ini atau besok atau kapanpun juga janda ini bisa mati karena kelaparan dan tak memiliki uang. Namun kita belajar satu hal bahwa janda ini mempercayakan seluruh hidupnya pada Tuhan. Kekhawatiran akan apa yang harus dia alami hari ini dan besok tidak dapat mengalahkan keinginan hatinya untuk bisa memberikan yang terbaik yang dia miliki bagi Tuhan yakni melalui dua peser uangnya sebab hanya itu yang dia miliki.

08 November (Tommy).docx (www.metrovoice.net)

Mungkin seringkali kita begitu enggan untuk memberi bagi Tuhan karena muncul banyak kekhawatiran apakah ini cukup untuk saya dan keluarga saya dan sebagainya. Kita bisa belajar dari janda ini bahwa sudah sepatutnya kita memberi bagi Allah yang sudah memberi banyak berkat bagi kita. Atau mungkin sebaliknya kita merasa bahwa kita tidak pernah absen memberi persembahan bagi Tuhan. Meski demikian kita harus berhati – hati karena seringkali kita terjebak dalam suatu kondisi bahwa kita tidak memberi bagi kemuliaan Tuhan namun bagi kemuliaan diri sendiri. Sebagaimana Yesus menegur para ahli taurat, yang memberi karena tidak ingin dipandang rendah orang lain, yang memberi persembahan supaya dianggap sebagai orang yang baik, dan yang paling banyak seringkali kita memberi dengan harapan Allah akan membalas lebih banyak bagi kita.

Persembahan yang berkenan di hadapan Allah haruslah dilandasi motivasi yang benar bukan untuk keuntungan diri sendiri namun sebagai ungkapan syukur atas segala berkat yang telah kita terima dari Dia. Lebih dari itu semua yang utama bagi Allah bukan apa dan berapa banyak yang kau persembahkan namun apa kau juga telah mempersembahkan hatimu bagi-Nya. Allah ingin melihat apakah kita berani mempersembahkan yang paling berharga yang kita miliki di dunia ini, segala ketakutanmu, segala kekhawatiranmu akan masa depan, segala keragu-raguanmu, khususnya Allah ingin melihat apakah engkau berani mempersembahkan seluruh hatimu bagi Dia yang telah mengasihi engkau.

“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita”
(2 Kor 9:7)

Image: http://www.metrovoice.net

About the author

Br. Tommy Riezky Tiyanto

Br. Tommy is a graduate of Petra Christian University, Surabaya, with a bachelor’s degree in Bussiness Management. He was working in Surabaya and also actived in choir and other Kristus Raja Parish’s activities. His motto is Be fearless and undaunted, for go where you may, Yahweh your God is with you (Joshua 1:9). He decided to enter the formation house in Surabaya as an aspirant in July 2015.

Kita adalah Saudara

27 september (Ophin).docx (michaeldatkinson.com)

Saat masih kecil ada banyak sanak saudara yang tinggal bersama kami di rumah. Dari enam bersaudara yang kandung ada pula dua orang keluarga dari ayah yang harus tinggal bersama kami demi kepentingan pendidikan mereka. Satu lagi adalah sahabat dari saudara kandung saya, ia juga tinggal bersama-sama dengan kami. Saat memasuki sekolah tingkat pertama (SLTP) aku sempat menanyakan kepada ayah tentang kehadiran orang-orang itu di rumah kami. “Bapa,,, Baca lebih lanjut